Mengenang kembali masa KKN

 

Sebenarnya tulisan ini mungkin bisa dibilang sudah kadaluarsa. Mengapa demikian, karena hal ini sudah lama yakni sekitar 1 tahun yang lalu. akan tetapi entah kenapa saya baru berniat menceritakan pengalaman ini. Kuliah kerja nyata atau yang biasa disingkat dengan KKN merupakan sesuatu yang tidak asing lagi di telinga. KKN itu sendiri  adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat , di mana pada masa tertentu Mahasiswa terjun langsung untuk menyalurkan apa yang dia pelajari waktu masih kuliah. Penulis sendiri pada saat itu melaksanakan  KKN tepatnya di desa Pattopakang kecamatan Mangarabombang (Marbo) Kabupaten Takalar.  Letaknya sekitar 90 menit  dari kota Makassar. Masa yang indah dan banyak kenangan, mungkin itu adalah kalimat yang paling cocok untuk diucapkan ketika mengingat masa KKN.

Desa Pattopakang sendiri termasuk pinggir laut. Jadi wajar jika air di lokasi itu susah, namun   hal itu menjadi cerita sendiri bagi saya. Sebagian besar penduduk tersebut adalah petani dan ada juga sambil menjadi nelayan. Pasar jonggo, adalah nama pasar di desa tersebut dan proses jual belinya adalah 3 hari sekali, jika sudah pukul 10.00 pasar tersebut sudah sepi. Waktu itu setiap posko di kecamatan Mangarabombang terdiri dari 6 orang, 3 laki-laki dan 3 Wanita. Dan koordinaor desa (kordes) pada waktu itu adalah saudara Anwar Sarijo , sekretaris saudari Ayuni Fajri, bendahara saudari Ita Sulfidah dan 3 orang lainnya Akmal Aziz (Penulis), Topan Sudirman dan Suminarti masing-masing sebagai anggota.

Sekitar 2 minggu kami di sana  perubahan kulit sudah mulai terlihat. Warna kulit yang dulunya putih berubah menjadi sawo matang dan  yang  sawo matang berubah menjadi agak gelap. Hal itu adalah wajar mengingat daerah tersebut adalah termasuk pinggiran laut.

Dua bulan lamanya  kami di sana  mulai tanggal 13 Februari-14 April 2013. Alhamdulillah kami adalah anak KKN pertama yang datang di rumah pak kepala desa karena baru beberapa bulan dia dilantik. Pak kepala desa sendiri namanya Dg Ngemba dan isterinya adalah HJ. Dingin dan dia mempunyai 4 orang anak.

Adapun program kerja kami pada saat itu adalah :

  1. Mengajar di sekolah
  2. Mengajar di TPA
  3. Pembersihan kuburan,mesjid dan kantor desa setiap minggu
  4. Menyelenggarakan kegiatan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI)
  5. Pembuatan papan struktur organisasi aparatur desa dan nama jalan
  6. Khutbah Jumat (bagi kaum laki-laki) dan masih banyak program tambahan lainnya

 

Diantara program yang  disebutkan di atas,  menurut pengalaman dan mendengar juga cerita dari teman-teman yang lain,  program khutbah Jumat adalah  yang paling dihindari bagi sebagian kaum laki-laki. Ini adalah program wajib karena latar belakang kampus saya memang Islam. Entah takut atau ada hal yang lain yang menjadi sebab mengapa sebagian besar laki-laki tidak ingin berkhutbah. Ada yang mengatakan bahwa saya belum pantas jika menasehati orang yang lebih tua dari pada saya, ada juga yang mengatakan bahwa pengetahuannya tentang agama sangat kurang. Namun yang paling sering terjadi adalah jika sudah hari kamis, muncullah berbagai alasan  jika besoknya ada kegiatan lain atau atau pada hari Jumat pagi tiba-tiba harus ke luar karena ada urusan mendadak. Saya sendiri pada waktu KKN tidak pernah Khutbah jumat dan alasan saya adalah kalau khutbah harus memakai bahasa makassar. Kenapa harus memakai bahasa Makassar ??? karena jamaah di sana sebagian besar adalah orang tua yang tidak mengerti bahasa indonesia dan saya sendiri tidak bisa menggunakan bahasa Makassar. Jadi di sini saya beranggapan bahwa harus ada penyesuaian jika memang ingin berkhutbah. Ini adalah Alasan yang sangat masuk akal diantara beberapa alasan yang telah disebutkan sebelumnya. hahahaha

Setelah 1 bulan berjalan kami pun kedatangan saudara baru dari UNHAS. Mereka adalah anak KKN reguler angkatan 84 ,dan akhirnya kita bekerjasam melaksanakan program untuk desa tersebut . Dengan semangat dan kerjasama yang baik maka program tersebut dapat selesai dengan baik. Tepat 14 april 2013 sekitar pukul 09.00 pagi kami meninggalkan desa itu. Kami pun berpamitan dengan para penduduk desa dengan rasa sedih, meninggalkan desa yang mempunyai banyak cerita bagi kami Dan masih panjang jika ingin diceritakan…. hehehehe

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s