Golput Dalam Perspektif Islam

Dinegara-negara yang mempraktekkan sistem demokrasi, mekanisme suksesi kepemimpinan politik (presiden, gubernur, walikota) dilaksanakan melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat. Mekanisme ini pada gilirannya mendorong tumbuhnya masyarakat pemilih yang terdiri dari seluruh strata dan kelompok sosial yang beragamdari yang paling bawah sampai pada kalangan atas. 

Oleh H. Fachrurrozy Pulungan, SE

Dinegara-negara yang mempraktekkan sistem demokrasi, mekanisme suksesi kepemimpinan politik (presiden, gubernur, walikota) dilaksanakan melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat. Mekanisme ini pada gilirannya mendorong tumbuhnya masyarakat pemilih yang terdiri dari seluruh strata dan kelompok sosial yang beragamdari yang paling bawah sampai pada kalangan atas. 

Masyarakat pemilih ini kemudian secara dinamis berpolarisasi membentuk komunitas baru untuk menentukan pilhan-pilihan yang kemudian berakhir dengan tampilnya calon-calon (presiden, gubernur, walikota) yang ditampilkan dan diusung oleh komunitas pendukungnya. Dinamika sosial seperti ini secara otomatis menentukan jumlah calon-calon pemimpin yang tampil, seperti tampilnya lima calon gubernur Sumatra Utara dalam pemilihan langsung April mendatang. Karenanya, persaingan antar calon-calon pemimpin melalui tim suksesnya, tentu akan berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk memenangkan calonnya masing-masing. 

Melalui berbagai instrumen kampanye, masyarakat umumnya kemudian disuguhi informasi terbuka maupun tertutup, dan ada pula informasi yang terselubung (black campaign), yang berakibat kepada terpecah-pecahnya konsentrasi masyarakat pemilih, bahkan timbulnya kelompok netral, yaitu kelompok yang tidak berpihak kepada salah satu calon, alias golongan putih (golput) yang dalam istilah asingnya adalah ‘abstain’ = not using one’s vote at an election/tidak menggunakan hak pilih dalam suatu pemilihan. (Oxford English Dictionary). Timbulnya kelompok baru ini kemudian, menjadi pertanyaan dalam kalangan umat Islam, apakah sikap untuk tidak memilih dapat dibenarkan atau tidak.

Golput dalam catatan sejarah Islam
Bila kita membuka lembaran sejarah umat Islam dimasa Rasulullah SAW dan para sahabat, dan sampai sekarang, naik turun kejayaan umat Islam tergantung pada umat itu sendiri sebagai pelaku sejarah, sejauh mana mereka konsisten dalam melaksanakan ajarannya. Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Allah memiliki kemampuan ilmu nubuwah yang demikian prospektif dalam berbagai ajarannya, baik ajaran tentang kemasyarakatan maupun politik, yang akhirnya melahirkan satu negara-Daulah al Islamiyah di semenanjung Arabia yang berkedudukan di Madinah. Disisi lain kemampuan para sahabat dan generasi setelahnya dalam menginterpretasi sabda-sabda Nabi SAW merupakan kekayaan intektual muslim, sehingga mampu menyebarkan Islam dengan cepat ke segala penjuru dunia yang didukung oleh kekuasaan kekhalifahan Islam, sampai akhirnya dihapus oleh kekuasaan militer di Turki pada awal abad ke-20 disamping kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa dengan mengacak-acak sistem kehidupan yang berlaku dikalangan masyarakat muslim. 

Hal itu masih terus berlangsung sampai sekarang, dengan sifat yang lebih ekstrim, yaitu ketergantungan negara-negara Islam akan ekonomi negaranya kepada negara-negara Barat, termasuk Indonesia. Dalam tarikh al khlafa’ imam as Suyuthi menjelaskan, bahwa kaum Khawarij pengikut Ali bin Abi Thalib memisahkan diri dan tidak mau bertahkim padanya, serta tidak juga mengikut kelompok Mu’awiyah. Mereka membuat basis sendiri di Harura’. Kemudian pertikaian Ali bin Abi Thalib dengan Thalhah dan Zubeir yang mendapat dukungan Aisyah ra, melahirkan kelompok umat yang di motori oleh Abdullah bin Umar untuk tidak ikut dalam pertempuran. Kedua sikap yang diambil sahabat-sahabat di atas merupakan tindakan tidak memilih satu diantara dua pilihan yang kemudian melahirkan sikap baru, yang mereka anggap lebih baik. Mengambil sikap baru itu kemudian dikenal sebagai perlawanan atau penentangan.Timbulnya sikap tidak memilih/abstain (golput) dalam sebuah proses pemilihan sebagaimana uraian di atas, merupakan hal yang wajar. Di era globalisasi yang menampakkan wajah bengisnya pada setiap persaingan, membuat orang kemudian semakin sadar dalam setiap tindakan, termasuk dalam bidang politik. 

Telaah Fiqiyah
Allah SWT mengingatkan dalam al Qur’an bagaimana memilih pemimpin. Demikian pula hadis-hadis Rasulullah SAW yang tidak hanya sekedar menentukan pilihan, tetapi juga membicarakan adab-adab dalam memperoleh kekuasaan dan setelah menduduki kekuasaan. Para penulis kitab-kitab hadis meletakkan memilih pemimpin dalam bab ‘al fitan/fitnah dan al ahkam/hukum’. Di dunia akademik dalam studi hadis, dikenal adanya teori ‘tawaqquf’, yaitu satu sikap tidak mengambil keputusan. Sikap ini terjadi ketika suatu hadis diperselisihkan/mukhtalif dan amat sulit untuk menggunakan teori lain dalam menyelesaikannya, atau mengkompromikannya dengan mentaqyid muthlaknya, mentakhshish ‘amnya, atau memahaminya berdasarkan latar belakang yang berbeda, seperti halnya menentukan masalah politik dan suksesi kepemimpinan (gubernur Sumatra Utara) misalnya. Diketahui, bahwa dari lima calon gubsu, tiga diantaranya adalah Agamis-Islamis, sementara dua calon lainnya Nasionalis. 

Karenanya golput bisa jadi ‘benar’ jika tidak ada dalil naqliyah dan aqliyah untuk menentukan pilihan. Akan tetapi golput bisa jadi ‘tidak benar’ jika sikap itu diambil tanpa upaya mendapatkan informasi yang kompeten, adil dan fair tentang pribadi-pribadi calon-calon tersebut. Golput atau abstain bukan meru-pakan problem akademik atau tun-tutan normatif, ia semata-mata kebutuhan praktis dan taktis. Golput atau abstain dalam suasana keter-paksaan dapat dilakukan dengan prinsip saddudzz al dzari’ah/menutup jalan. Dalam ilmu Ushul Fiqih, tujuan penetapan hukum ini ialah untuk memudahkan tercapainya kemaslahatan, atau menjauh dari adanya kemungkinan terjadinya kerusakan dan terhindarnya kemungkinan terjadinya perbuatan maksiat. 

Artinya, dasar penetapan hukum ini ialah tinjauan terhadap akibat suatu perbuatan. Dalam kata lain, perbuatanlah yang menjadi sasarannya, baik akibat perbuatan itu dikenhendaki atau tidak. Peninjauan terhadap akibat suatu perbuatan, bukannya memperhitungkan kepada niatnya, akan tetapi akibat dan hasil dari perbuatan itu. Jadi, suatu perbuatan dipuji atau dicela, tergantung pada akibatnya. Dan itu pulalah sebabnya al Quran mencela orang yang memaki berhala, walaupun hal itu merupakan suatu penolakan atas sesuatu yang batil. “ Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan….”. Q.s. al An’am. a. 108.

Implikasi Golput
Sikap untuk tidak memilih sering dilakukan oleh partai-partai Islam di Indonesia. Simak saja bagaimana ketatnya pertarungan sewaktu pemilihan presiden pada tahun 2004, di mana kemudian beberapa partai Islam menggelar konprensi pers seputar sikap mereka untuk tidak memilih pada putaran kedua pilpres tersebut. Kita juga pernah melihat bagaimana sikap PPP walk out dalam sidang paripurna pada tahun 1984 dalam pengesahan azas Tunggal. Kemudian pada pemilu Juni 1992, ditenggarai bahwa sekitar 5 persen dari jumlah pemilih ketika itu tidak menggunakan hak pilihnya, dan kebanyakan dari mereka adalah pemuda. Keumuman tuntunan terhadap setiap fenomena politik yang dijalani umat Islam sepanjang masa merupakan kenyataan dan keharusan dalam ajaran agama. 

Kepemimpinan adalah kekuasaan dan kekuasaan adalah alat untuk menjalankan syaria’ thirast al din wa siyasat al dunia. Akan tetapi perkembangan akan tuntunan normatif ini sepanjang sejarahnya mengalami pasang surut. Sikap golput tidak selamanya dapat dipersalahkan. Namun implikasinya sungguh perlu dicermati bahwa: 1). Kaum muslimin yang golput/abstain pada hakikatnya akan memberikan kesempatan yang luas kepada non muslim dan kaum sekuler menancapkan kukunya dan mengobok-obok kehidupan umat Islam. 2). Umat Islam akan sulit berdialog dengan pemimpin non-muslim atau sekuler, karena mereka merasa tidak didukung. 3). Umat Islam suka atau tidak suka tetap harus mengikuti kebijakan pemerintah/gubernur yang berkuasa, meski itu bukan pilihannya.

Penutup
Memilih pemimpin dalam Islam berkaitan dengan maqashid al syari’ah (tujuan sariat) tidak boleh ditinggalkan. Model dan sistem pemilihan yang ada sekarang ini merupakan hajiyat sekaligus tahsiniyat. Hajiyat, karena suatu keniscayaan untuk memilih pemimpin secara langsung, dan tahsiniyat, karena pemilihannya dilakukan melalui peraturan yang sudah disusun secara konstitusional.Karenanya mengambil sikap golput dalam situasi seperti sekarang ini pasti sangat merugikan umat Islam. Dengan golput, umat Islam tidak akan dapat melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar secara sistemik dan terarah. Salahnya, siapa yang harus dipilih di antara tiga calon-calon tersebut. Wallahu’alam.

http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=11691

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s